Primary tabs

KEPEMIMPINAN PENDIDIKAN BERKARAKTER

Oleh: Dr. Muhammad Jafar Anwar, M.Si (Sekretaris Umum Asosiasi Dosen dan Guru Indonesia/ADGI)

Abstract

Figur of The Prophet Muhammad SAW. as ideal leader and educator in a long time. His leadership’s attitude will spout of the light greatness had been formed in a good character, in disseminating of rahmatan lilalamien. Someone grade’s leadership had been determined as morality values who based on a good values as the Prophet Muhammad attitude, namely: fairness (siddiq), trueteeship (amanah), sermon at a religious metting (tablig) and smart and nobody can imitate him as the completely. The character education leader of course have had a good vission, mission and the goal to improve output and outcome quality. A good quality of human power development who have the quality of their faith, knowledge, and good deed. The character leadership are able to design a good education program in order to educate the character leaders in the future. On the other hand, is not the leader who likes the power abuse. The target of leadership were the obedient from his followeres. We trust education as capital for building up a good personality, as the individual who has the commitment, a strong trust, integrity, a good character, not a split personality. The educator and the educational personal have had authority and charismatic to create the friendship, responsibilities of their duties in doing dan developing the education existence.

Key Words : character, leadership and management

A. PENDAHULUAN
Model, pendekatan, metode dan strategi kepemimpinan pendidikan Rasulullah menjadi rujukan dan pedoman terhadap pendidikan karakter sepanjang masa. Dalam konteks sekarang dan akan datang, Rasulullah sebagai pemimpin yang cocok segala zaman dan guru bergelar “super” profesional. Sang guru yang mampu membangkitkan kesadaran, kemauan dan motivasi peserta didik (baca, para sahabat dan pengikutnya), bukan yang senang bersenjatakan ancaman. Figur Muhammad (sebagai pendidik dan tenaga kependidikan) memancarkan cahaya keagungan yang diwujud nyatakan dalam amal yang ilmiah berakhlak karimah, menyebarkan rahmatan lilalamien. Rasulullah Muhammad SAW. sebagai pemimpin dan pendidik ideal. Sifat kepemimpinan beliau memancarkan cahaya keagungan yang diwujudnyatakan dalam amal yang ilmiah berakhlak karimah, menyebarkan rahmatan lilalamien. Derajat kepemimpinan seseorang ditentukan nilai moral yang berlandaskan pada nilai-nilai luhur sebagaimana sifat kepemimpinan Rasulullah yang shiddiq, amanah, fathanah, tabligh dan dengan keistiqomahannya.
Tulisan ini memfokuskan pada “Kepemimpinan Pendidikan Berkarakter”. Masalahnya adalah bagaimana membangun kepemimpinan pendidikan yang berkarakter yang sesuai dengan nilai universal. Kepemimpinan berorientasi pada manusia dan memberikan bimbingan yang efisien kepada pada pengikutnya. Dalam konteks kepemimpinan seorang pemimpinan harus mampu mempengaruhi dan menggerakkan bawanan untuk mengikutinya secara sukarela. Seorang pemimpin pendidikan bertanggung jawab secara internal dengan kerjasama yang baik. Dia memiliki ketrampilan teknis dalam mempengaruhi orang lain untuk bersama-sama melakukan aktivitas untuk mencapai tujuan organisasi. Untuk itu, moralitas dan kepemimpinan yang berkarakter menjadi kompas atau atlas yang memberikan petunjuk baik dan buruk melakukan sesuatu.

B. PEMBAHASAN
Moralitas dipandang sebagai keadaan yang harus diselesaikan antara kepentingan pribadi pemimpin dengan orang-orang yang dipimpinnya, serta hak dan kewajiban. Moralitas mengandung makna integritas pribadi yaitu harkat dan martabat manusia. Bagaimana moralitas kepemimpinan pendidikan untuk melahirkan manusia yang berkarakter. Derajat kepemimpinan seseorang ditentukan nilai moral yang berlandaskan pada nilai-nilai luhur kita. Pendidikan menjadi media utama untuk meningkatkan kualitas sumberdaya manusia (SDM). Pendidikan menjadi modal dasar untuk membentuk kepribadian yang utuh (integrated personality), sebagai pribadi yang memiliki komitmen, keyakinan kuat, integritas, berakhlak terpuji bukan kepribadian terbelah/munafik (split personality), pribadi yang suka hasut, iri hati, dengki, congkak bin sombong.
Landasan filosofi pendidikan nasional tertuang dalam Undang-Undang Dasar (UUD) 1945 sebagai prinsip dasar pembangunan pendidikan. Landasan ini menempatkan peserta didik sebagai mahluk ciptaan Tuhan Yang Maha Esa dengan segala fitrahnya. Pendidikan merupakan hak asasi setiap warga negara untuk memperoleh pendidikan yang bermutu sesuai minat dan bakatnya tanpa memandang status sosial, ekonomi, suku bangsa, agama, ras, etnis dan jender. Pendidikan bertugas untuk melahirkan manusia berharkat dan bermartabat dengan karakter yang baik. Pemerataan akses dan peningkatan mutu pendidikan menjadikan warga negara Indonesia memiliki kecakapan hidup (life skill) agar tujuan pendidikan tercapai. Pendidikan sebagai langkah strategis melahirkan manusia pembangunan, manusia terdidik atau manusia mukmin atau ulul albab dan profilnya (QS. Al-Imran [3]:190-191) untuk menciptakan civic society yang dijiwai nilai Qur’ani dan nilai pancasila. Melalui pendidikan karakter sebagai langkah strategis untuk melahirkan manusia mukmin yang berilmu, amal perbuatannya dilandasi oleh ilmu yang dimilikinya. Dalam kata bijak : amal yang ilmiah atau ilmu yang amaliyah.
Kepemimpinan (baca, kepala sekolah) sangat berpengaruh dan menentukan kemajuan sekolah, sehingga diperlukan kecerdasan, kepintaran, kreativitas dan inovatif. Dengan modal tersebut berdampak positif bagi perkembangan dan pengembangan pendidikan khususnya dalam kehidupan masyarakat modern. Pada pendidikan modern kepemimpinan kepala sekolah merupakan jabatan strategis dalam mencapai tujuan pendidikan (Suprihatin, et. al, 2004:61). Kepemimpinan pendidikan yang bermutu sebagai tema penting dalam meningkatkan proses pembelajaran dan pengajaran. Artinya kepemimpinan pendidikan sebagai langkah strategis dalam membangun kultur organisasi yang baik. Kepemimpinan pendidikan yang baik akan memberikan perhatian dan keseriusan membangun pendidikan yang berkualitas.
Dalam UU No. 20/2003 tentang sistem pendidikan nasional bahwa pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran dalam mengembangkan potensi dirinya agar memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara. Undang-undang tersebut, menggambarkan bagaimana pendidikan dapat mengembangkan potensi diri dan kecerdasan baik soft skill maupun hard skill. Lembaga pendidikan diharapkan dapat melahirkan insan paripurna atau ulul albab.
Menurut Suderadjat (2011:20) lulusan yang bermutu tinggi (suatu lembaga pendidikan) adalah seorang mukmin yang berilmu (kognitif/knowledge), dan mampu memanfaatkan ilmunya dalam kehidupan, sebagai amalnya (motorik/skill) dengan akhlak mulia (nilai/sikap/attitude), sehingga berdampak rahmatan lil alamien. Lulusan yang bermutu sebagai pribadi yang integral, yaitu integrasi antara iman, ilmu dan amal, dalam agama Kristen disebut dengan istilah iman, ilmu dan pelayanan.
Konsep Dasar Kepemimpinan
Istilah leadership berasal dari kata leader artinya pemimpin atau to lead artinya memimpin. Leadership sudah menjadi kajian tersendiri dalam ilmu manajemen, karena sifatnya yang universal dan menjadikan bahan diklat dalam perusahaan maupun dalam organisasi membicarakan juga tentang kepemimpinan. Menurut Kartono (2008:38) pemimpin adalah seorang yang memiliki satu atau beberapa kelebihan sebagai predisposisi (bakat yang dibawa sejak lahir) dan kebutuhan dari satu situasi/zaman, sehingga dia mempunyai kekuasaan dan kewibawaan untuk mengarahkan dan membimbing bawahan.
Pemimpin dalam konteks ini adalah kemampuan seseorang untuk mempengaruhi dan menggerakkan orang lain yang secara sukarela mengikuti kehendak sang pemimpin. Pemimpin mendapat awalan ke dan akhiran an, menjadi kepemimpinan. Soekanto (1982:318) “Kepemimpinan (leadership) adalah kemampu-an seseorang (yaitu pemimpin atau leader) untuk mempengaruhi orang lain (yaitu yang dipimpin atau pengikut-pengikutnya)”. Kartasapoetra dan Widyaningsih (1982:59) menguraikan bahwa “pemimpin (leader) adalah seseorang yang berkemampuan untuk menggerakkan golongan atau masyarakat untuk mencapai suatu tujuan tertentu yaitu tujuan golongan atau masyarakatnya”.
Ordway Tead dalam Soekarso, et. al. (2002:16) leadership is the activity of imfluencing people to coorperate toward some goal which come to find desirable (kepemimpinan adalah aktivitas mempengaruhi orang-orang agar mau bekerja sama untuk mencapai tujuan yang mereka inginkan).
Menurut Maxwell dalam Soekarso et. al. (2002:16) kepemimpinan adalah pengaruh. Kepemimpinan adalah suatu kehidupan yang mempengaruhi kehidupan lain. Kepemimpinan adalah proses pengaruh sosial dalam hubungan interpersonal, penetapan keputusan dan pencapaian tujuan. Kepmimpinan adalah proses mempengaruhi perilaku orang lain ke arah pencapaian tujuan. Kepemimpinan adalah pengaruh, di mana kepemimpinan terjadi karena proses pengaruh.
Kepemimpinan merupakan salah satu faktor yang sangat penting dalam suatu organisai karena sebagian besar keberhasilan dan kegagalan suatu organisasi ditentukan oleh kepemimpinan dalam organisasi tersebut. Menurut Black dikutip Samsudin (2006:287) bahwa “Kepemimpinan adalah kemampuan meyakinkan dan menggerakkan orang lain agar mau bekerja sama di bawah kepemimpinannya sebagai suatu tim untuk mencapai suatu tujuan tertentu”. Indrafachrudi (2006:2) Kepemimpinan adalah suatu kegiatan dalam membimbing suatu kelompok sedemikian rupa sehingga tercapailah tujuan itu.
Kepemimpinan adalah proses sosial, proses saling mendorong antar anggota kelompok yang berbeda peran. Keberhasilan saling hubungan antar anggota kelompok itu mengendalikan kekuatan yang tersedia ke arah tujuan bersama.
Menurut Burns dikutip Yukl (2009:4) kepemimpinan dilaksanakan ketika seseorang memobilisasi sumber daya institusional, politik, psikologis dan sumber-sumber lainnya untuk membangkitkan, melibatkan dan memenuhi motibasi pengikutnya. Drath dan Palus dikutip Yukl (2009:4) kepemimpinan adalah proses untuk membuat orang memahami manfaat kerja bersama orang lain, sehingga mereka paham dan mau melakukannya.
Jadi, kepemimpinan berimplikasi, pada (1) Kepemimpinan sebagai kegiatan untuk mempengaruhi orang lain, para bawahan (followers). Hubungan sebab akibat, tanpa adanya karyawan atau bawahan, kepemimpinan tidak akan ada. (2) seorang pemimpin yang efektif sebagai seseorang yang dengan kekuasaannya mampu menggugah dan memberikan memotivasi pengikutnya untuk mengembangkan kinerja yang memuaskan. Kepemimpinan yang efektif bagi seorang pemimpin berusaha untuk mempunyai kesanggupan untuk menggerakkan dan mengarahkan orang-orang yang dipimpinnya.

C. PEMIMPIN PENDIDIKAN BERKARAKTER
Seorang pemimpin pendidikan memiliki pengaruh dan kemampuannya dapat memperbaiki kultur pendidikan. Pendidikan yang berkarakter diperlukan sentuhan pemimpin yang berkarakter untuk menghasilkan manusia kreatif, inovatif dan berbudaya. Kultur pendidikan itu berkaitan dengan nilai-nilai, keyakinan-keyakinan dan norma-norma. Kepemimpinan pendidikan harus memiliki kepintaran, kecerdasan, kreativitas dan inovasi untuk mencapai tujuan pendidikan. Pemimpin bukan hanya berada di depan, tetapi juga harus mengikuti orang lain secara sukarela. Stanley Huffty dalam Maxwell (2004:26) mengatakan bukan posisi yang menjadikan seorang pemimpin, sang pemimpinlah yang menjadi posisi tersebut.
Pemimpin sekolah sebagai pemimpin pendidikan hendaknya berifat gembira, bersemangat, berhati-hati mengeluarkan pendapat atau bersenda, bersikap sewajarnya (tidak dibuat-buat), bersedia mendengarkan keluhan para guru dan membicarakan persoalan yang dihadapinya, bersifat rendah hati, dan lain-lain. Kepala sekolah hendaknya berusaha supaya “staf conflict” atau perselisihan, bentrokan di antara guru dan pemimpin, sedapat mungkin harus dapat dihindari. Seorang guru membutuhkan seorang kawan yang dapat memahami keadaan dirinya untuk mengemukakan persoalan dan kesulitan yang dihadapinya. Hal sebagaimana yang dikatakan Prestwood (1957:29) menyatakan : “If the principal and staff members understand themselves and one other, they can create an atmosphere the encouranges maximum growth in human relations – apabila kepala sekolah dan anggota staf memahami diri mereka sendiri dan yang lain, mereka dapat menciptakan suasana hubungan yang saling menyemangati dalam hubungan manusia”.
Kepemimpinan pendidikan yang berkarakter adalah kemampuan untuk bekerja sama dengan dan bagi orang lain. Kepemimpinan yang baik sangat diperlukan dalam membina pendidikan yang bermutu. Kepemimpinan ini memberikan kontribusi tersebut bagi pencapaian tujuan yang ditetapkan bersama. Kepemimpinan sebagai proses untuk membantu kelompok mencapai tujuan yang diingin kelompok. Kepemimpinan memberikan bimbingan dengan harapan tujuan kelompok yang ditetapkan dapat dicapai. Fungsi kepemimpinan adalah bagaimana mencapai tujuan yang hendak dicapai dan bagaimana menciptakan suasana pekerjaan yang sehat dan menyenangkan.
Menurutt Indrafachrudi (1993:14-15) menulis bahwa fungsi pendidikan yang bertalian dengan tujuan yang hendak dicapai antara lain:
a. Memikirkan dan merumuskan dengan teliti tujuan kelompok serta menjelaskan supaya anggota dapat bekerja sama untuk mencapai itu;
b. Memberi dorongan kepada anggota-anggota kelompok untuk menganalisis situasi supaya dapat dirumuskan rencana kegiatan kepemimpinan yand dapat memberikan harapan;
c. Membantu anggota kelompok dalam mengumpulkan keterangan yang perlu supaya dapat mengadakan pertimbangan yang sehat;
d. Menggunakan kesanggupan dan minat khusus anggota kelompok;
e. Memberi dorongan kepada setiap anggota kelompok untuk melahirkan perasaan dan pikirannya dan memilih pikiran yang baik dan berguna untuk memecahkan masalah;
f. Memberi kepercayaan dan menyerahkan tanggung jawab kepada anggota dalam melaksanakan tugas sesuai kemampuan masing-masing demi kepentingan bersama.
Dari pandangan tersebut seorang pemimpin tentu memupuk dan memelihara kebersamaan dalam kelompok. Seorang pemimpin dapat mengusaha-kan dan menciptakan suasana kerja yang kondusif sehingga kegembiraan dan semangat kerja tercipta. Selain itu, menanamkan dan memupuk perasaan memiliki (sense of belonging) sehingga mereka dapat berpartisipasi aktif terhadap kegiatan yang dilakukan. Dalam melakukan sesuatu kemampuan dan kesadaran seorang pemimpin dengan kekuasaan, kewibawaan dan kemampuan menjadi petunjuk arah yang jelas. Kapasitas pribadi, prestasi, tanggung jawab dan status seseorang dalam masyarakat merupakan kelebihan yang harus dimiliki.
Kepemimpinan, manajemen dan organisasi merupakan tiga pilar yang saling memperkokoh eksistensinya. Artinya manajemen tercapai tujuannya jika ada pemimpin yang baik dan berkarakter. Kepemimpinan hanya dapat dilaksanakan oleh seorang pemimpin yang memiliki tujuan, visi dan misi yang jelah. Organisasi yang kuat harus disokong oleh kepemimpinan seorang pemimpin yang bermutu. Seorang pemimpin adalah seseorang yang mempunyai keahlian memimpin, mempunyai kemampuan mempengaruhi pendirian orang lain. Seorang pemimpin adalah seseorang yang aktif membuat rencana-rencana, mengkoordinasi, melakukan percobaan dan memimpin pekerjaan untuk mencapai tujuan bersama-sama.
Tugas utama seorang pemimpin pendidikan antara lain: Pemimpin bekerja sama dengan orang lain, Pemimpin bertanggung jawab dan memper-tanggungjawabkan (akuntabilitas) dan mengadakan evaluasi terhadap apa yang dilakukan. Pemimpin menyeimbangkan pencapaian tujuan dan prioritas dengan mendelegasikan tugas-tugasnya kepada staf, sedangkan seorang manajer adalah seorang mediator, Pemimpin membuat keputusan yang sulit dalam memecahkan masalah.
Kepemimpinan yang berkarakter dapat menjadi bagian yang tak terpisahkan dalam intekaksi dan harmonisasi hubungan pemimpin dan orang yang dipimpinnya. Motivasi dalam meningkatkan mutu output yang bermutu dalam kepemimpinan pendidikan sebagai langkah strategis untuk melahirkan insan yang berkualitas dan berkarakter. Pendidikan sebagai langkah membangun citra kepemimpinan (leadership) yang baik. Dalam konteks kepemimpinan Sergiovanni (1992:7-8) dan John NG (2008) menggambarkan: kepemimpinan dengan tangan (hand of leadership) sebagai tingkah laku yang nampak dari yang lainnya. Tangan sendiri tidak cukup kekuatan untuk menghitung terhadap kepemimpinan, juga tidak mewakili kepemimpinan pada semua tingkatan. Kepemimpinan dengan hati (heart of leadership) mengajak seseorang yang melakukan terhadap orang yang percaya, nilai, impian dan komitmen terhadap visi seseorang. Model ini menjadi kenyataannya. Sedangkan kepemimpinan dengan kepala (head of leadership) harus melakukan sesuatu dengan pemikiran, teori dan praktek, para pemimpin mengembangkan dalam waktu tertentu dengan kemampuan, dalam pemahaman teori yang merefleksikan situasi yang dihadapi.
Karakter merupakan hal yang krusial dalam kepemimpinan. Begitu juga, integritas dan moralitas merupakan dua aspek penting sebagai model dan pengembangannya. Seorang pemimpin dalam membangun budaya yang benar. Meurut Peter dalam John NG (2008:154) bahwa kebenaran (trust) sebagai suatu yang kritis dalam hubungan. Hal itu penting ketika diperlukan dalam kerjasama, koordinasi dan colaborasi. Gambaran budaya yang benar sebagai suatu fungsi kompetensi, ralasi yang dekat dan integritas tetapi dengan orientasi pribadi.
Seorang kepala sekolah harus mampu menciptakan suasana yang kondusif sehingga para guru dan staf bekerja laiknya pejuang. Mereka mencoba melakukan kegiatannya sesuai perannya dengan unggul dan respek terhadap profesinya. Secara mikro kepala sekolah memberikan kewenangan untuk mengatur dan mengurus kepentingan warga sekolah. Pengambilan keputusan partisipatif adalah cara untuk mengambil keputusan melalui penciptaan lingkungan yang terbuka dan demokratis. Warga sekolah didorong agar terlibat langsung dalam proses pengambilan keputusan yang berkontribusi terhadap pencapaian tujuan sekolah. Sekolah akan menjadi mandiri dengan ciri-ciri: mempunyai tingkat kemandirian tinggi, adaptif, antisipatif, dan proaktif; memiliki kontrol yang kuat terhadap input manajemen dan sumber dayanya; memiliki kontrol yang kuat terhadap kondisi kerja; komitmen yang tinggi pada dirinya; dan prestasi merupakan acuan bagi penilaiannya (Umiarso dan Imam Gojali, 2010:47).
Dalam memperbaiki mutu pendidikan diperlukan kepemimpinan pendidikan yang kuat, untuk membenahi pendidikan dari hulu sampai ke hilir. Komponen sekolah akan memberikan kontribusi yang signifikan dengan pola kepemimpinan kepala sekolah dan didukung pola supervisi yang andal. Dalam penerapannya, pola ini menghadapi hambatan. Pertama, sikap mental para pengelola pendidikan, baik yang memimpin maupun yang dipimpin; Kedua, tidak adanya tindak lanjut dari evaluasi program; Ketiga, gaya kepemimpinan yang tidak mendukung; Keempat, kurangnya rasa memiliki pada para pelaksana pendidikan.
Sekurangnya ada empat tantangan besar yang kompleks dalam dunia pendidikan. Pertama, tantangan untuk meningkatkan nilai tambah (added value), yaitu bagaimana meningkatkan nilai tambah dalam rangka meningkatkan produktivitas serta pertumbuhan dan pemerataan ekonomi sebagai upaya untuk memelihara dan meningkatkan pembangunan yang berkelanjutan. Kedua, tantangan untuk melakukan pengkajian secara komprehensif dan mendalam terhadap terjadinya transformasi (perubahan) struktur masyarakat, dari masyarakat yang agraris ke masyarakat industri yang menguasai teknologi dan informasi. Implikasinya pada tuntutan dan pengembangan sumberdaya manusia (SDM); Ketiga, adanya persaingan global yang ketat, yaitu bagaimana meningkatkan daya saing bangsa dalam meningkatkan karya-karya yang bermutu bersaing sebagai hasil penguasan ilmu pengetahuan dan seni (IPTEKS); dan Keempat, munculnya kolonialisme baru di bidang IPTEK dan ekonomi menggantikan kolonialisme politik (Umiarso dan Imam Gojali, 2010:7).
Kepala sekolah bersama pendidik dan tenaga kependidikan lainnya berusaha mengembangkan program pembelajaran melalui kurikulum berbasis life skills sesuai jurusan dan disiplin ilmunya. Untuk itu, kepala sekolah harus memiliki visi, misi dan tujuan ditetapkan secara baik untuk mencapai tujuan bersama. Seorang pemimpin memiliki misi/tujuan yang harus dicapai dan tujuan dapat direalisasikan, bila ada kerjasama antara kepala sekolah dengan pendidik dan tenaga kependidikan lainnya. Kerjasama itu untuk saling mengisi dan melengkapi satu sama lain dalam mengatasi keterbatasan fisik, mental, anggaran dan waktu. Hal ini diperlukan dalam meningkatkan partisipasi semua pihak dalam sebuah organisasi melalui gaya kepemimpinan seorang pemimpin.
Koontz dalam Rustandi (1985:26) membedakan tiga gaya kepemimpinan yaitu: kepemimpinan otokratis, kepemimpinan demokratis dan kepemimpinan bebas (laissez faire atau free rein). French dalam Rustandi (1985:26) membagi gaya kepemimpinan dalam empat kelompok, yaitu kepemimpinan bebas, kepemimpinan otokratis, kepemimpinan birokrasi dan kepemimpinan demokratis. Hersey dalam Rustandi (1985:26) juga membedakan gaya kepemimpinan yaitu gaya penuntunan (telling), penawaran (selling), pengikutsertaan (participating) dan pelimpahan (delegating).
Karakteristik seorang pemimpin pendidikan didasarkan pada prinsip-prinsip: Seorang yang belajar seumur hidup melalui membaca, menulis, observasi, dan mendengar, berorientasi pada pelayanan, dan membawa energi yang positif. Dalam falsafah Pancasila kepemimpinan harus dimiliki seorang pemimpin, antara lain : Hing ngarsa sung tulada yaitu memberi suri-tauladan yang baik, Hing madya mangun karsa yaitu bergiat dan menggugah semangat di tengah-tengah masyarakat (anak buah) dan Tut Wuri handayani yaitu memberi pengaruh baik dan mendorong dari belakang kepada anak buah. Selain itu, seorang pemimpin harus hemat, terbuka dan kesatria
Kepemimpinan yang berkarakter akan menciptakan organisasi yang memiliki visi yang baik. Dalam kepemimpinan selalu mengacu kepada gagasan perbaikan. Upaya tersebut mengarah pada stimulasi semangat kepada staf dan pengikutnya dengan gagasan-gagasan baru, menurunkan visi dan misi organisasi serta meningkatkan kemampuan dan potensi bawahan/staf. Menurut Bush dan Coleman (2012:75) bahwa kepemimpinan transfrmasional merujuk pada : (1) pengaruh ideal (para pemimpin dipandang sebagai model peran bagi yang lainnya); (2) motivasi yang inspirasional; (3) stimulai intelektual (4) pertimbangan yang didasarkan pada individu (pemimpin sebagai mentor atau penasehat bagi individu).
Kepemimpinan adalah soal bagaimana mempengaruhi orang untuk ikut, manajemen focus pada memelihara sistem-sistem dan proses-proses. Untuk menggerakkan sesama ke arah yang baru, anda membutuh-kan pengaruh. Sergiovanni dalam Bush dan Coleman (2012:85) membedah kepemimpinan taktis dan strategis. Kepemimpinan taktis mencakup analisis terhadap kegiatan administrative dengan skala kecil, namun memberikan perhatian pada tujuan secara lebih kecil. Kepemimpinan strategis merupakan seni dan ilmu yang memokuskan perhatiannya pada kebijakan-kebijakan dan tujuan-tujuan dengan rencana-rencana jangka panjang. Strategi berkaitan dengan keyakinan dan komitmen.
Keyakinan yang kuat menjadi realitas dalam kehidupan. Untuk meraih sesuatu yang terbaik tentu harus dimulai dari keyakinan bahwa kita berhak dan mampu mencapai impian kita. Keyakinan yang kuat mangarahkan kita agar : (1) Fokus terhadap tujuan dan mendorong timbulnya hasrat dan antusiasme; dan (2) Tegar dan tidak pernah menyerah dalam menghadapi tantangan, keraguan, keengganan dalam mewujudkan impian (dreams) menjadi kenyataan.
Komitmen sebagai pilar penyangga yang kokoh yaitu : integritas, kearifan dan pendirian (Zainuddin, 2003:21). Integritas artinya menyesuaikan perbuatan dengan perkataan. Integritas akan menjaga komitmen kita. Kearifan dan pendirian aka mencegah kita untuk berbuat komitmen bodoh. Dalam menyusun batu bata sebagai pilar keberhasilan lembaga termasuk lembaga pendidikan maka seorang pemimpin “wajib” menata organisasi dengan karakteristik, antara lain : (1) keinginan untuk mencapai tujuan; (2) komitmen; (3) tanggung jawab dalam mengambil keputusan dan menentukan sendiri tujuan hidup. Artinya siap menerima resiko dan menganggung akibatnya; (4) kerja keras. Keberhasilan itu bukan yang kebetulan tetapi adanya kemauan kuat untuk mewujudkannya. Semakin keras seseorang bekerja, semakin baik perasaannya dan semakin baik perasaan seseorang, semakin keras ia akan bekerja. Gagasan yang baik tidak akan bekerja dengan baik, jika kita tidak mengerjakannya. Alam ini menyediakan berbagai macam makanan (kebutuhan) kita, tetapi tidak akan ada jika tidak berjuang untuk mendapatkan. Adanya sesuatu itu berkat ikhtiar dan do’a. (5) karakter adalah jumlah keseluruhan nilai-nilai, keyakinan dan kepribadian yang tercermin dalam sikap, perilaku dan tindalan. Karakter merupakan kombinasi ketulusan, sifat tidak mementing diri sendiri, pengertian, pendirian, keberanian. Loyalitas dan rasa hormat. (6) keyakinan yang positif sebagai sikap percaya diri yang timbul melalui persiapan. (7) ketekunan yang luar biasa. Ketekunan adalah komitmen untuk menyelesaikan apa yang sudah kita mulai. Calvin Coolidge “tidak ada yang menggantikan ketekunan. Hanya ketekunan yang dapat mencapai segalanya”. (8) kebanggaan akan prestasi bukanlah cerminan ego, melainkan mewakili kepuasan disertai kerendahan hati. Kualitas pekerjaan dan kualitas pekerjanya tidak dapat dipisahkan satu sama lain. Usaha yang dilakukan setengah hati tidak akan menghasilkan setenagh hasil, tetapi tidak akan menghasilkan apa pun. Lebih baik melakukan pekerjaan kecil dengan baik daripada melakukan pekerjaan besar atau banyak pekerjaan asal-asalan dengan hasil buruk. (9) bersedia menjadi murid dengan mencari pembimbing.
Fungsi pemimpin dalam kepemimpinan pendidikan tersebut untuk me-laksanakan perbaikan dan peningkatan mutu yang berkelanjutan. Pelaksanaan peningkatan mutu pendidikan dengan memberikan kewenangan kepada para guru untuk membuat keputusan serta memberi tanggung jawab yang lebih besar dalam melaksanakan tugas. Kepemimpinan pendidikan sebagai suatu kemampuan dalam proses mempengaruhi, mengkoordinir, menggerakkan orang-orang lain yang ada hubungannya dengan pengembangan ilmu pendidikan dan pengajaran agar kegiatan-kegiatan yang efektif dan efisien.

Kesimpulan
Kepemimpinan sangat menentukan keberhasilan dalam manajemen. Dalam organisasi (lembaga pendidikan formal) kehadiran pemimpin sangat penting dalam meningkatkan mutu pendidikan. Kepemimpinan pendidikan secara bijaksana mengandung pengertian pandai, cakap, berpengalaman, cerdik banyak akal agar pribadi yang bersangkutan memiliki kebiwawaan dalam memimpin. Demikian pendidikan yang berkarakter tercipta dalam rangka melahirkan manusia yang bermoral baik. Semua orang tahu bahwa pendidikan membutuhkan proses kesabaran yang tak bertepi dari menit ke menit, dari Jam ke Jam dan hari ke hari untuk mendidik dan membangun anak bangsa yang berkarakter.

(Tulisan sudah dimuat pada Edu Power: Jurnal Inovasi Pendidikan, No. 1 Vol. 1, Juli-Desember 2015).

Education - This is a contributing Drupal Theme
Design by WeebPal.