Primary tabs

Trend Topi Boni dalam Sejarah Perlawanan Petani Tangerang

Oleh: Ilyas Ichsani, M.Hum
 
Topi boni adalah kekayaan khas dari masyarakat Tangerang yang bersejarah. Topi yang terbuat dari anyaman bambu atau pandan ini, kualitasnya sangat terkenal bahkan banyak dipesan masyarakat Eropa. Berbanding terbalik di masa kini, mungkin orang lebih mengenal topi anyaman dari daerah Tasikmalaya dan dari daerah Tatar Sunda lainnya.
Pada masa kejayaannya, topi anyaman dari Tangerang menjadi sumber pemasukan keuangan masyarakat, selain dari sektor perkebunan dan pertanian. Kerajinan pembuatan topi boni merupakan industri rumahan (home industry) yang berkualitas ekspor. Dalam catatan sejarah, pada tahun 1913, ekspor topi anyaman khas Tangerang ini mencapai 5.495.394buah, dengan total penghasilan sebesar1.328.820gulden. (Edi S. Ekadjati, et.al: 2004: 120)
Total penjualan topi yang berjumlah jutaan ini, membuat trend topi Tangerang merambah mancanegara. Karena reputasi Tangerang sebagai daerah penghasil topi anyaman, maka ketika Tangerang berdiri menjadi Kabupaten sendiri pada tanggal27 Desember 1943, simbol topi melengkung diabadikan ke dalam lambang daerah, yang dikombinasi dengan maskot sungai Cisadane dan Benteng.
Identitas topi anyaman Tangerang, juga berarti sebagai simbol masyarakat pribumi yang berpadu dengan alam. Profesi masyarakat Tangerang sebagian besar adalah sebagai petani (baik penggarap maupun yang memiliki lahan sendiri), ketika mereka mengelola perkebunan atau pertaniannya, mereka mengenakan topi anyaman ini sebagai pelindung kepala dari terik matahari. Sehingga trend penggunaan topi ini begitu melekat bagi masyarakat Tangerang.
Simbol topi ini juga bermakna perlawanan terhadap segala bentuk penindasan dan oposisi masyarakat pribumi. Sebagaimana diketahui dalam sejarah perlawanan petani Tangerang, mereka mengenakan topi boni dalam pergerakan yang terjadi pada tanggal 10 Februari 1924. Sebagai identitas kelompok pribumi, perlawanan tersebut bermaksud mengembalikan norma-norma tradisional yang telah berubah setelah kedatangan orang-orang asing di Tanah Tangerang. Impian para petani semakin bergelora setelah kemunculan tokoh karismatik, seorang petani yang juga berprofesi sebagai dalang, bernama Kaiin Bapa Kayah.
Sejak masa VOC sampai akhir penjajahan Belanda, wilayah Tangerang Raya menjadi sebuah tanah partikelir dari pusat pemerintahan kolonial di Batavia. Label ‘partikelir’, memiliki arti bahwa daerah ini bisa diperjualbelikan atau disewa dalam jangka waktu tertentu oleh para pendatang Eropa atau Asia lainnya, dengan tambahan hak istimewa mengelola tanah sekaligus menguasai manusia yang menghuni di daerah tersebut.
Para pembeli atau penyewa tersebut belakangan disebut sebagai tuan tanah (landheer) yang sangat berkuasa di daerah Tangerang, mereka menganggap kaum pribumi yang mendiami tanah-tanah di wilayahnya sebagai sapi perahan untuk kepentingan bisnis pertanian dan perkebunan, para petani pribumi juga dibebani membayar cuke (pajak), dan kerja paksa (kompenian). Sehingga lengkaplah penderitaan masyarakat pribumi.
Ketika keadaan sudah semakin parah, etika dan moral keagamaan sudah terdegradasi, serta kehidupan ekonomi bertambah sulit, maka muncullah tokoh karismatik, yang mengawali kehidupannya sebagai buruh tani serabutan dan bermacam profesi lainnya juga pernah digeluti, dari menjadi mandor pengawas perkebunan, opas (aparat polisi kolonial di Tangerang dan Batavia), dan terakhir sebagai seorang dalang wayang. Dengan pengalaman hidup dan reputasinya sebagai seorang dalang, ia mengalami kehidupan yang tercerahkan sebagai orang terpilih untuk membantu masyarakat petani di Tangerang yang sudah kian tersudut oleh segenap peraturan dan kebijakan yang semakin menghimpit kaum pribumi.
Visi perjuangan Ki Dalang Kaiin cukup sederhana, yaitu ingin mengembalikan tanah milik nenek moyang kaum pribumi yang sudah terampas oleh pemerintah kolonial yang lalim dan para tuan tanah oportunis yang pada hakikatnya hanya menumpang mencari nafkah dengan memanfaatkan tanah di Tangerang sebagai aset bisnis mereka.
Cita-cita perjuangan Kaiin muncul ketika ia lama merenung (berpikir) tentang keadaan masyarakat pribumi yang seharusnya mewarisi tanah-tanah dari nenek moyang mereka, tetapi malah lebih sengsara kehidupannya bila dibandingkan dengan para pendatang asing yang disokong oleh penguasa kolonial.
Perjuangan Kaiin Bapa Kayah mendapatkan dukungan dari orang terdekatnya, seperti: istrinya yang bernama Tan Tjeng Nio (Nyonya Banten) dan anak tirinya.Secara ekonomi, Ki Dalang sudah mapan, hal ini karena Nyonya Tan dikenal sebagai pengusaha, sehingga untuk memenuhi kebutuhan pokoknya sudah lebih dari mencukupi, penghasilannya sebagai seorang dalang pun masih di bawah penghasilan istrinya. Tetapi semangat revolusi mereka sekeluarga untuk memanusiakan para petani Tangerang patut diacungi jempol.
Untuk mendapatkan dan meyakinkan para calon pengikut pergerakan, Ki Dalang selalu berupaya menyelipkan pesan-pesan revolusi dalam setiap pentasnya, guna mempengaruhi masyarakat sekaligus memotivasi mereka untuk berjuang bersama demi cita-cita kehidupan di masa mendatang yang lebih baik. Ditambah lagi  dengan penguatan spiritual Bapa Dalang yang semakin terasah, yaitu dengan mengunjungi para pendahulu di pemakamannya. Pada setiap ziarah ke makam orang-orang suci tersebut, ia menyempatkan diri untuk berguru dan belajar kepada orang-orang alim yang ditemuinya, sehingga secara lahiriah dan batiniah Kaiin sudah cukup siap memberikan ilmunya kepada para pengikut agar dapat mempertebal keyakinan masyarakat berjihad di jalan Allah.
Salah satu tempat yang sering dikunjungi Kaiin Bapa Kayah adalah makam Raden Bagong di Parung Kored, Pondok Bahar, Kecamatan Karang Tengah, Kota Tangerang. Selain berziarah, ia juga berguru dengan Ki Reog, juru kunci makam sekaligus anak dari Raden Bagong. Di tempat ini pula ia, sering berdiskusi tentang nasib kaum pribumi dengan Merin (anak Ki Reog), yang selanjutnya menjadi Panglima Perangnya dalam pergerakan.
Selain berziarah dan berguru di Distrik Kebayoran (melingkupiwilayah Ciledug, Pondok Aren, Karang Tengah, dan Cipondoh, serta sebagian masuk daerah Jakarta saat ini), Ki Dalang memiliki reputasi sebagai dalang wayang handal, sehingga ia sering tampil mementaskan pagelaran wayangnya. Karena itulah Kaiin sangat mudah mempengaruhi masyarakat sekitar untuk menjadi penyokong pergerakan protes sosialnya.
Sang Penggerak protes pun cukup berhasil memobilisasi masyarakat dalam berbagai profesi dan latar belakang untuk berada di dalam barisan revolusinya. Dari kalangan guru agama dan tokoh kebatinan, bergabung Hadji Rioen (guru ngaji dan tarekat sekaligus pedagang) dari daerah Kalideres;Ibu Minah atau Minan dari Kampung Kelor, yang turut memperkenalkan Kaiin kepada guru-guru kebatinan dan tempat-tempat ziarah yang harus dikunjungi; dan Merin (anak Ki Reog dan juga cucu Raden Bagong). Sedangkan dari petani ada beberapa tokoh utama yang menjadi pengikut setia, yaitu: Enang dari Karang Tengah yang diangkat menjadi Patih; Siban Bapa Sambut asal Pondok Aren (seorang petani kaya);dan Marin atau Mirin yang berasal dari Kampung Melayu.
Di hari yang ditentukan untuk melakukan pergerakan pada tanggal 10 Februari 1924, Ki Dalang berhasil membawa pasukan sejumlah + 34 orang lelaki dan 4 orang perempuan. Mereka semua diikutsertakan dalam langkah awal pergerakan untuk berdiplomasi kepada Raden Toewoeh, selaku Assisten Wedana Teluknaga, berbagai aspirasi disampaikan dan Kaiin Bapa Kayah juga menjelaskan tentang misi sucinya untuk mengembalikan tanah-tanah kepada kaum pribumi.
Dalam pelaksanaan protes tersebut, mereka semua mengenakan seragam pakaian putih-putih (simbol gerakan bermakna kesucian) dengan memakai topi boni, terbuat dari anyaman bambu khas Tangerang (simbol lokalitas budaya dan masyarakat pribumi) dan sebagiannya lagi menggunakan ikat kepala putih (simbol perlawanan suci).
Hal ini terabadikan dalam arsip Berita Acara yang dibuat oleh Raden Toewoeh: “Waktoe hamba lagi ada di pendopo ka Assistenan jaitoe lagi trima rapportnja itoe Tjoetak Politie Pangkalan sekoetika itoe dateng di roemah ka Assistenan + 34 orang lelaki dan 4 orang perempoean berpakaian badjoe poetih tjelana poetih pake topi bamboe (boni) dengan bersendjata golok telendjang dan toembak kampak serta sebagian dari itoe orang-orang kepalanja ada jang diiket pake selempa poetih, di antara itoe orang-orang tjoema hamba kenal pada Kaiin ba Kaiah dalang wayang koelit tinggal di kampoeng Pangkalan ...” (ANRI: 1981: 75)
Kesaksian arsip ini, membuktikan bahwa topi boni, yang terbuat dari anyaman bambu, tengah menjadi trend masyarakat pribumi Tangerang kala itu – sekaligus menegaskan identitas lokal dari penduduk asli. Ciri lain dari perlawanan kaum tani tersebut, yaitu dengan mengenakan pakaian putih-putih, yang menandaskan bahwa perjuangan mereka dilandasi oleh alam kesucian, untuk merebut kembali hak-hak yang sudah terampas oleh kaum pendatang asing yang sudah merusak tatanan tradisional dan kehidupan agama kaum petani.
Di masa kini, topi boni juga digemari oleh kaum muda sebagai identitas pergaulan, mode, dan gaya masyarakat perkotaan. Mungkin mereka hanya mengikuti trend budaya populer saja dan tidak mengetahui hakikat topi anyaman yang bersejarah di Tangerang. Tetapi keadaan ini cukup menggembirakan, karena dapat menghidupkan kembali sentra kerajinan topi anyaman khas Tangerang yang hampir punah. Semoga trend ini terus berkembang, sehingga topi boni tidak hanya digunakan oleh anggota pramuka saja di Indonesia, tetapi juga dapat dikenakan oleh masyarakat luas.
 
(Pernah dimuat dalam Koran Tangsel Pos, Rabu 10, Feburari 2016)

Education - This is a contributing Drupal Theme
Design by WeebPal.